Langsung ke konten utama

Ejaan Bahasa Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 353) ejaan yaitu kaidah atau cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata , kalimat) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahawa ejaan adalah seperengkat kaidah tulis menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata dan tanda baca.
Ejaan yang dijadikan sebagai acuan dalam penulisan teks yaitu pedoman umum ejaan Bahasa Indonesia berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan nomor 50 tahun 2015. Dalam pedoman tersebut telah diatur penulisan ejaan yang benar.

A. Macam-Macam Ejaan
1. Ejaan Van Ophuijsen
Hal-hal yang menonjol dalam ejaan van Ophuijsen adalah sebagai berikut.
a.       Huruf  j dipakai untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
b.      Huruf oe dipakai untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
c.       Tanda diakritik, seperti koma, ain dan tanda trema, dipakai untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinama’.

2. Ejaan Republik/ Ejaan Soewandi
Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
a) Huruf oe diganti dengan huruf u, seperti pada guru, itu, umur.
b) Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c) Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, berjalan2, ke-barat2-an.
d) Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.

3. Ejaan Melindo
Berikut adalah beberapa contoh penggunaan Ejaan Melindo :
1. sejajar sebagai pengganti sedjadjar
2. mencuci sebagai pengganti mentjutji
3. meηaηa sebagai pengganti dari menganga
4. berήaήi sebagai pengganti berjanji

4).Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.

Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.
1) Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi                                             Ejaan Yang Disempurnakan
dj       djalan, djauh                                       j           jalan, jauh
j         pajung, laju                                         y          payung, layu
nj       njonja, bunji                                        ny        nyonya, bunyi
sj       isjarat, masjarakat                               sy         isyarat, masyarakat
tj        tjukup, tjutji                                        c          cukup, cuci
ch      tarich, achir                                         kh        tarikh, akhir
2) Huruf-huruf dibaawah ini yang sebelumnya sudah terdapat dalam ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakainya
f           maaf, fakir                               z          zeni, lezat
              v          valuta, universitas


3) Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkali dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan yang mengikutinya.
di- (awalan)                         di (kata depan)
   ditulis                                                di kampus
   dibakar                                              di jalan
   dilempar                                            di rumah


4. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Penyempurnaan terhadap ejaan bahasa Indonesia telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyempurnaan tersebut menghasilkan naskah yang pada tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Perubahan ini telah ditetapkan di dalam Peraturan Menteri dan Kebudayaan (Permendikbud) RI Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

B. Pemakaian Huruf
a.  Nama-Nama Huruf


Huruf
Nama
Pengucapan
Kapital
Nonkapital
A
a
a
a
B
b
be
bé
C
c
ce
cé
D
d
de
dé
E
e
e
é
F
f
ef
èf
G
g
ge
gé
H
h
ha
ha
I
i
i
i
J
j
je
jé
K
k
ka
ka
L
l
el
èl
M
m
em
èm
N
n
en
èn
O
o
o
o
P
p
pe
pé
Q
q
ki
ki
R
r
er
èr
S
s
es
ès
T
t
te
té
U
u
u
u
V
v
ve
vé
W
w
we
wé
X
x
eks
èks
Y
y
ye
yé
Z
z
zet
zèt


b.    Lafal Singkatan dan Kata

Singkatan/Kata         Lafal Tidak Baku      Lafal Baku
AC                              [a se]                            [a ce]
BBC                            [be be se], [bi bi si]     [be be ce]
TVRI                           [ti vi er i]                     [te ve er i]
pascasarjana                [paskasarjana]              [pascasarjana]

C. Cara Penulisan Huruf
a. Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar
b. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdi- ri atas lima huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.
c. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
d. Huruf Diftong
e. Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
f. Huruf Tebal

D. Cara Penulisan Kata
a. Cara Penulisan Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang belum diberi imbuhan. Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Contoh:
Ibu percaya bahwa engkau bias
Kantor pajak penuh sesak
Buku itu sangat tebal

b. Cara Penulisan Kata Turunan
Kata turunan adalah kata dasar yang mendapat imbuhan, baik berupa awalan, sisipan, atau akhiran, maupun gabungan kata.
a.                   Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh:
Dikelola                                   Penetapan
Menengok                               Mempermainkan
b.                  Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh:
Bertepuk tangan                      Garis bawahi
Sebar luaskan
c.                   Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh:
Menggarisbawahi                    Menyebarluaskan
Dilipatgandakan                      Penghancurleburan
d.                  Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasa, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh:
Adipati                                    Mahasiswa
Aerodinamika                         Mancanegara
Pancasila                                 Bikarbonat
Biokimia                                  Paripurna

E. Cara Pemakaian Tanda Baca
a. Tanda Titik (.)
a.     Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya: Ayahku tinggal di Solo.
                   Biarlah mereka duduk di sana.     
b.    Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
  Misalnya:  A. S. Kramawijaya
c.     Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan
Misalnya:        Dr.                   (Doktor)       
                   S.Pd            (Sarjan Pendidikan)
                   Yth              (Yang Terhormat)
                   S.Ag            (Sarjana Agama)
 b. Tanda Titik Koma (; ) 
a.                   Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-­bagian kalimat yang sejenis dan setara. 
Misalnya: Malam makin larut; kami belum selesai juga. 
b. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1)     berkewarganegaraan Indonesia;
(2)     berijazah sarjana S-1;
(3)     berbadan sehat; dan
(4)     bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Ke- satuan Republik Indonesia.

c. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-ba- gian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a.     pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b.     penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tang- ga, dan program kerja; dan
c.     pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organi- sasi.
c. Tanda Titik Dua ( : ) 
a.                   Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian. 
Misalnya: Yang kita perlukan sekarang ialah barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.
b.                  Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
  Misalnya:        Ketua      : Ahmad Wijaya
                           Sekretaris : S. Handayani
                           Bendahara : B. Hartawan
d. Tanda Hubung ( - ) 
a.                   Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya:... ada cara ba­-                                                                                                                    ru juga          
b.                  Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:  anak-anak

c.  Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun  yang dinyatakan dengan angka atau menyam- bung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
 Misalnya:  11-11-2013
                   p-a-n-i-t-i-a

 e.Tanda Tanya ( ? )
a.       Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya
Misalnya: Kapan ia berangkat? 
     Saudara tahu bukan?
b.      Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya: la dilahirkan pada tahun 1683 (?).
                     Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
 f. Tanda Seru (!) 
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat. 
Misalnya: Alangkah seramnya peristiwa itu!
                 Bersihkan kamar ini sekarang juga! 
g. Tanda Kurung (   ) 
a. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. 
Misalnya: DIP (Daftar Isian Proyek) kantor itu sudah selesai. 
b.Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. 
Misalnya:  Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962
c. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
Misalnya:  Faktor-faktor produksi menyangkut masalah berikut:
               (a) alam,
               (b) tenaga kerja, dan
               (c) modal.
h. Tanda Kurung Siku ([... ]) 
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu jadi isyarat bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asal.         
Misalnya: Sang Sapurba men[d] engar bunyi gemerisik.

i. Tanda Petik ("... ") 
a.Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.  
Misalnya:  "Sudah siap?" tanya Awal.
              "Saya belum siap," seru Mira, "tunggu sebentar!" 
b.Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat. 
Misalnya:  Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat

j. Tanda Petik Tunggal ( ' ... ' ) 
a.Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.       
Misalnya:  Tanya Basri, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?
b.Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing (Lihat pemakaian tanada kurung) 
Misalnya:  rate of inflation          ’laju inflasi’ 

k. Tanda Ulang ( ...2 ) 
Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.           
Misalnya:  kata2

l. Tanda Garis Miring ( / ) 
Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat
Misalnya: No. 7/PK/1973 


Demikian Tentang Ejaan Bahasa Indonesia, kalau masih ada salah mohon dimaafkan. Terimakasih





















Komentar