Langsung ke konten utama

Sejarah Bahasa Indonesia

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pada tanggal 20 Agustus 2019, saya belajar Mata Kuliah Bahasa Indonesia dengan pembahasan Asal Mula Bahasa Indonesia atau yang dengan kata lain Sejarah Bahasa Indonesia. Mata kuliah ini dimulai dengan kelompok 1 yang memulai presentasinya.

Pada awalnya Bahasa dilatar belakangi dengan identitas suatu bangsa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan bangsa lain. Dimana setiap bangsa itu memiliki bahasa yang berbeda dengan ciri khas dan asal usul masing-masing. Sejarah bahasa Indonesia berawal dari bahasa Melayu yang disahkan menjadi bahasa persatuan ketika Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945, bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa negara yang memiliki kedudukan dan fungsi yang tinggi, hingga bahasa Indonesia digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesianya. Sejarah bahasa Indonesia tidak berhenti begitu saja, apalagi dengan sifat terbukanya membuat bahasa Indonesia menyerap kata-kata dari bahasa asing, bahasa daerah, maupun bahasa lainnya. Sehingga pada saat ini bahasa Indonesia masih mengalami penyempurnaan dalam ejaannya.

1. Akar Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia yang kini kita gunakan berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang kita gunakan adalah bahasa Melayu tua yang sampai sekarang masih dapat kita selidiki peniggalannya pada masa lampau.

Apa saja bahasa yang dapat mempengaruhi bahasa Melayu itu?

1) Bahasa Sansekerta
Bahasa yang masuk saat bersamaan dengan agama Hindu pada abad ke 5 sampai abad ke 7. Kata-kata yang dimbil dari bahasa sansekerta sebagian besar mengenai hal kebudayaan, agama, dan hal yang bersifat agung (monumental), semboyan, ajaran, dan sebagainya. Penggunaan bahasa sansekerta masih digunakan sampai sekarang, yaitu yang menggunakan akhiran -wan, -man, dan -wati. Contohnya: Budayawan, wartawan, sastrawan, seniman, budiman, karyawati, seniwati.

2) Bahasa Arab
Bahasa Arab masuk ke Indonesia bersamaan dengan budaya dan agama Islam yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab kurang lebih pada akhir abad ke 15. Kata-kata yang diambil sebaian besar mengenai kehidupan keagamaan Islam. Contohnya: Akhlak, akhir, amal, azab, akhirat, ayat, alam, ilmu, ibadah, izin, zakat, zina, dan lain-lain.

3) Bahasa Belanda
Bahasa Belanda masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya bangsa Belanda ke Indonesia pada awal abad ke – 17. Beberapa contoh kata-kata bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Belanda antara lain: atret, asisten, advokad, arsip, gubernur, residen, provinsi, kondektur, masinis, dan lain-lain.

4) Bahasa Inggris
Pengaruh bahasa Inggris baru terjadi setelah bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Bahasa Inggris masuk ke Indonesia terjadi setelah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa contoh kata – kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris antara lain : analisis, tesis, sintesis, hipotesis, struktural, ideal, instruksional, formal, informal, abstrak, dan lain-lain.

5) Bahasa – bahasa asing lain
Beberapa bahasa asing yang ikut memengaruhi bahasa Melayu beserta contoh – contoh katanya antara lain :
a.       Bahasa Portugis    : lentera, bendera, jendela, almari, sepatu , jelana.
b.      Bahasa Tamil         : logam, pualam, gembala, meterai.
c.       Bahasa Perancis    : trotoar, urinoar, dresoar, salut.
d.      Bahasa Parsi          : pasar, kenduri, peduli.
e.       Bahasa Cina          : bakmi, bakso, bakwan, capjae, tahu, taoge.
f.        Bahasa Jepang       : kimono, judo, taiso, karate, samurai.

6) Bahasa – bahasa Daerah
Sama seperti dengan bahasa Inggris, kata – kata bahasa daerah pada umumnya ikut memperkaya setelah bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia.
Beberapa contoh kata – kata bahasa Indonesia dari bahasa daerah, antara lain :
a.    Bahasa Jawa: bias, lestari, rampung, lugu, tempe, mepet
b.    Bahasa Sunda: nyahok.
c.    Bahasa Banjar: gambut.
d.    Bahasa Daerah Irian: koteka.
e.    Bahasa Batak: horas.
f.    Bahasa Minang: rendang, inang, datuk.


2. Lahirnya Bahasa Indonesia
Saat zaman penjajahan, ketika bangsa Portugis pertama kali datang ke Indonesia, bahasa Melayu sudah mempunyai kedudukan yang luar biasa di tengah-tengah bahasa-bahasa daerah di Nusantara ini. Pigafetta yang saat itu mengikuti perjalanan Ferdinand Magelhean bersama bangsa Portugis mengelilingi dunia tahun 1521 ketika kapalnya berlabuh di Tidore. Itu merupakan bukti yang jelas bahwa pada zaman itu bahasa Melayu sudah menyebar sampai ke bagian timur Indonesia.

Mengapa bahasa Melayu yang dijadikan bahasa nasional? Ada empat faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut:

1. Sejarah telah membantu penyebaran bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan atau bahasa perdagangan. Dengan bantuan para pedagang, bahasa Melayu disebarkan ke seluruh pantai Nusantara terutama di kota-kota pelabuhan. Maka, bahasa Melayu menjadi bahasa penghubung antara individu.

2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari karena dalam bahasa ini tidak dikenal tingkatan bahasa seperti dalam bahasa Jawa (ngoko, kromo) dan bahasa Bugis - Makassar (Puang, Karaeng, Andi, Daeng) atau perbedaan bahasa kasar dan halus seperti dalam bahasa Sunda (kasar, lemes).

3. Faktor Psikologis, yaitu suku Jawa, suku Sunda, dan suku-suku yang lain dengan suka rela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

4. Kesanggupan bahasa itu sendiri juga menjadi salah satu faktor penentu. Jika bahasa itu tidak mempunyai kesanggupan untuk dapat dipakai menjadi bahasa kebudayaan dalam arti yang luas, tentulah bahasa itu tidak akan dapat berkembang menjadi bahasa yang sempurna. Pada kenyataannya dapat dibuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang dapat dipakai untuk merumuskan pendapat secara tepat dan mengutarakan perasaan secara jelas.

Pada zaman Belanda ketika Dewan Rakyat dibentuk, yakni pada 18 Mei 1918 bahasa Melayu memperoleh pengakuan sebagai bahasa resmi kedua di samping bahasa Belanda yang berkedudukan sebagai bahasa resmi pertama di dalam sidang Dewan rakyat. Sayangnya, anggota bumiputra tidak banyak yang memanfaatkannya. Masalah bahasa resmi muncul lagi dalam Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo pada tahun 1938. Pada kongres itu ada dua hal hasil keputusan penting yaitu bahasa Indonesia menjadi (1) bahasa resmi dan (2) bahasa pengantar dalam badan-badan perwakilan dan perundangundangan.

Demikianlah ”lahir” nya bahasa Indonesia bukan sebagai sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit, tetapi melalui perjuangan panjang disertai keinsafan, kebulatan tekad, dan semangat untuk bersatu. Api perjuangan itu berkobar terus untuk mencapai Indonesia merdeka yang sebelum itu harus berjuang melawan penjajah.

3. Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia
1Ejaan Van Ophuijsen
Ch. A. Van Ophuijsen adalah inspektur pendidikan (dasar) bagi penduduk pribumi Sumatera dan daerah sekitarnya di tahun 1890an. Pada tahun 1896 ia ditugaskan oleh pemerintah untuk merancang sistem ejaan dasar yang mantap dan ilmiah untuk digunakan dalam pengajaran. Hasil kerja Van Ophuijsen yang dibantu Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Thaib Soetan Ibrahim muncul pada tahun 1901, dalam bentuk sebuah daftar kerja yang diawali dengan uraian singkat tentang aturan-aturan ejaan, Kitab Logat Melajoe. Aturan-aturan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kata koe (Akoe), kau, se, ke, dan di ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, contoh: koelihat, kaudengar, seorang, keroemah, dibawa.
b. Kata poen- selamanya dihubungkan dengan kata sebelumnya
Contoh:
- Adapoen radja itoe hendak berangkat.
- Sekalipoen tiada lagi berbunji.
c. Ke- dan se- merupakan awalan, bukan ka- dan sa-,  Contoh: ketiga, sebenarnya
d. Ejaan Van Ophuijsen ini juga sudah membahas awalan ber-, ter-, dan per- yang jika dirangkai dengan kata dasar berlawanan huruf r akan luluh, contoh: beroemah, terasa
e. Akhiran –i akan diberi tanda ” apabila bertemu dengan kata berakhiran huruf [a], contoh: menamai”.

2. Ejaan Suwandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
a.    Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur
b.    Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c.    Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
d.    Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.

Van Ophui jsen 1901
Soewandi 1947
Boekoe
Buku
Ma’lum
Maklum
‘adil
Adil
Pende’
Pendek


Demikian Resume dari pembelajaran pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Bahasa Indonesia. Kurang lebihnya mohon dimaafkan karena masih dalam belajar juga. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Komentar